5 Alasan KPR Tidak Selalu Menguntungkan Bagi Si Pencari Hunian

KPR atau yang dikenal dengan Kredit Pemilikan Rumah ini saat ini menjadi solusi alternatif yang sangat diminati dalam memperoleh rumah idaman karena dengan berbagai keuntungan yang didapat. Apalagi dengan semakin sulitnya kondisi perekonomian yang ada di Indonesia saat ini sebagian masyarakat memang sangat mengandalkan KPR untuk masalah hunian yang diidam-idamkan.

Banyak yang beranggapan bahawa KPR memberikan banyak manfaat untuk mereka yang berkeinginan segera pindah dari rumah kontrakan dan menempati rumah sendiri tetapi belum mempunyai dana yang cukup. Nah, apakah KPR selalu memberikan keuntungan tanpa adanya kerugian?


Berikut ini 5 alasan bahwa KPR tidak selalu menguntungkan:

Hutang jangka panjang

Dengan mengambil KPR, artinya Anda memperoleh pinjaman dari pihak pembiaya dan wajib hukumnya untuk melunasinya dan ditambah dengan imbalan yang diberikan berupa bunga sesuai yang ditetapkan. Hutang ini nantinya menjadi sebuah beban keuangan yang harus diselesaikan tentu saja dengan komitmen yang tinggi. Terlebih jangka waktu KPR umumnya cukup lama antara 5 hingga 25 tahun.

Bunga yang fluktuatif

Besaran suku bunga kredit rumah secara umum bersifat tetap di beberapa tahun pertama saja, kemudian berubah sesuai dengan kondisi pasar dan bisa naik atau turun. Kondisi inilah yang sangat mempengaruhi besaran angsuran. Dalam Islam, bunga yang berubah ini juga dianggap mengandung unsur riba. Sebetulnya, ada opsi KPR syariah yang tidak ada riba di dalamnya. Hanya saja, besar cicilan cenderung lebih besar dan tenor umumnya juga lebih singkat.

Harga rumah jauh lebih mahal

Setiap jenis kredit adalah sebuah perjanjian antara pihak pemberi pinjaman atau kreditur yang mana menyetujui pinjaman yang diberikan kepada penerima pinjaman atau debitur. Tentu saja akan ada sebuah reward atau yang dikenal dengan istilah balas jasa yang diberikan kepada kreditur. Dalam hal ini, reward tersebut berupa bunga yang menyertai cicilan pada setiap periodenya. Jika dikalkulasikan, harga rumah akan jauh lebih mahal jika kita membelinya dengan skema KPR.

Risiko rumah disita

Secara umum, jaminan yang digunakan dalam KPR adalah rumah itu sendiri. Sehingga ketika gagal membayar atau terjadi kredit macet berkelanjutan, rumah akan otomatis disita. Tak sedikit orang yang melempar kredit rumah mereka kepada orang lain sebelum disita oleh bank.

Surat-surat kepemilikan rumah ditanah

Kerugian lain dari KPR adalah kondisi surat yang akan ditahan oleh pihak kreditur (bank). Surat-surat tersebut sementara akan dipegang oleh pihak bank sampai cicilan selesai. Meski Anda bisa leluasa menempatinya, namun status rumah belum menjadi milik Anda sepenuhnya.

Demikian beberapa informasi mengenai kerugian sebelum membeli rumah dengan KPR. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan guna menghindari terjadinya hal-hal buruk di kemudian hari.