Mengapa Harga Rumah dan Tanah Selalu Naik dan Tidak Masuk Akal? Ini Faktanya

Baik rumah dan tanah tak hanya menjadi aset berharga, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan papan manusia. Namun tampaknya keinginan untuk segera memilik rumah sendiri semakin sulit diwujudkan oleh para pekerja zaman sekarang yang gajinya terbilang pas-pasan.

Ya, dari waktu ke waktu, harga tanah maupun rumah mengalami kenaikan yang signifikan. Terutama di kota-kota besar, kenaikannya bisa lebih dari 20% per tahun. Sementara hal ini tak beriringan dengan kenaikan gaji karyawan tiap tahun yang bahkan tak sampai 10%. Lantas, apa yang membuat harga rumah dan tanah menjadi begitu mahal?


1. Inflasi

Ya, inflasi memang berpengaruh besar terhadap kenaikan harga properti seperti tanah dan rumah. Sering kali pihak developer melalui tim marketingnya akan selalu mempropagandakan inflasi sebagai alasan dalam menaikan harga rumah. Apalagi inflasi di sini merupakan proses meningkatnya harga secara umum dan terus menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang memang disebabkan banyak hal, seperti konsumsi masyarakat sampai ketidaklancaran distribusi barang yang menyebabkan menurunnya nilai mata ulang secara kontinyu.

2. Demand

Faktor ini sejatinya memang tidak bisa lepas dari semakin meningkatnya populasi manusia. Di lain sisi, ketersediaan tanah untuk membangun rumah tidak akan bertambah sampai kapanpun juga. Hal inilah yang mendorong permintaan terhadap hunian selalu tinggi. Merujuk pada hukum ekonomi, permintaan yang tinggi disebabkan oleh kelangkaan, sehingga hal langka tersebut akan dipasarkan dengan harga jual yang mahal.

3. Supply

Demand dan supply merupakan dua hal yang berkaitan. Akibat pertumbuhan penduduk yang melesat, maka sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memastikan supply (pasokan) rumah melalui berbagai program yang ada. Sebagai contoh, program 1 juta rumah bersubsidi untuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang saat ini sudah dilakukan oleh kemenpera.

Tetapi, untuk mewujudkannya, tentu saja pemerintah mempunyai keterbatasan salah satunya mengenai anggaran. Terlebih semakin sulit menemukan tanah yang dijual dengan harga murah. Sehingga peran swasta memang tidak bisa lepas dengan pemerintah dalam menyiapkan berbagai pemenuhan kebutuhan rumah.

4. Investasi

Rumah dan tanah sebagai jenis dari properti tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan primer tetapi juga dijadikan sebagai investasi. Memang sering dijumpai ada orang yang mempunyai rumah lebih dari satu. Tentu saja rumah yang lain dijadikan sebagai alat investasi misalnya untuk disewakan atau dikontrakan atau bahkan bisa dijual ketika sudah lewat beberapa tahun. Dan selalu dianggap memberikan keuntungan karena harganya yang terus naik.

Di lain sisi, banyaknya orang yang tertarik membeli rumah kedua untuk tujuan investasi memperkecil peluang bagi para pekerja biasa yang ingin membeli rumah pertama. Umumnya mereka yang berburu rumah untuk investasi berasal dari kalangan ekonomi menengah atas. Sehingga persaingan untuk membeli rumah menjadi semakin kompetitif.

5. Lokasi

Nyatanya, idiom “posisi menentukan prestasi” tidak hanya berlaku ketika masih duduk di bangku sekolah saja. Tetapi juga berlaku untuk menentukan peruntungan lokasi rumah apakah berada di lokasi yang strategis atau tidak. Biasanya untuk rumah strategis ditandai dengan rumah yang berada di kawasan yang sudah lama berkembang dan sudah tersedia berbagai macam fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, pusat perdagangan, pusat perbelanjaan, dan lainnya.

Demikianlah beberapa hal yang mempengaruhi kenaikan harga rumah dan tanah yang dari tahun ke tahun terus melambung. Karena itu, jika sudah memiliki dana yang cukup, pembelian properti sebaiknya jangan ditunda-tunda sebelum terjadi kenaikan harga yang drastis.